Melayani Orang Kecil

Melayani Orang Kecil

Pada tahun 1986, tim Majalah Rohani melakukan wawancara dengan Br. M. Purwautama SJ, selaku Wakil Koordinator Yayasan Realino Seksi Pengabdian Masyarakat Yogyakarta. Kami akan membagikan hasil wawancara tersebut yang akan diunggah ke dalam beberapa bagian. Penulisan dengan cetak miring merupakan tambahan redaksional dari tim website. Seluruh isi wawancara diperoleh dari Majalah Rohani, “Kerasulan untuk Kelompok dan Masyarakat Terpencil”, Tahun XXXIII No. 11, November 1986, hlm. 342-347.

***

Pengantar Redaksi

Sidang Pleno Majelis Antara Religius Indonesia (MASRI) tanggal 18-28 September 1984 di Klender, Jakarta, mengeluarkan sebuah “Pilihan Preferensi Melayani Orang Kecil”. Melayani Orang Kecil, mereka yang miskin, yang tersingkir, yang tertindas, yang diperlakukan tidak adil adalah bukan barang baru dalam sejarah Gereja. Yang baru adalah keberanian untuk mengambil pilihan dengan segala risikonya: memihak pada orang kecil.

Itulah himbauan Konsili Pastoral Gaudium et Spes (1965) yang pada tahun 1968 dijadikan kebulatan tekad oleh Konferensi Para Uskup Amerika Latin di Merdelin, Colombia. Himbauan sudah didengungkan, pilihan sudah dijanjikan, sikap sudah ditawarkan, tetapi adakah pelaksanaan sudah dicobakan di sana-sini?

Wawancara dengan Br. M. Purwautama, SJ, Wakil Koordinator Yayasasn Realino Seksi Pengabdian Masyarakat Yogyakarta, yang diberikan pada tanggal 30 September 1986, kiranya akan mengantar para pembaca menjawab pertanyaan tersebut. Yayasan Realino Seksi Pengabdian Masyarakat dirintis oleh pater Chauvigny de Blot, SJ sejak 17 Maret 1964. Kemudian pada pertengahan tahun 1970-an pater H. Suaso de Lima de Prado, SJ menggantikannya. Br. M. Purwautama mulai mewakili pelaksanaan harian Koordinator pada tahun 1977. Yayasan Realino Seksi Pengabdian Masyarakat adalah salah satu dari dua Yayasan Sosial di DIY yang diakui secara sah oleh pemerintah.

Wawancara ini dilakukan dan ditulis kembali oleh V. Istanto Pramujo, P.C. Prantara dan Francis W. Nitiprawira. Berikut adalah hasil wawancara:

 

Bruder, siapa sajakah yang dijangkau oleh pelayanan Yayasan Realino Seksi Pengabdian Masyarakat?

Orang-orang miskin yang membutuhkan pertolongan dan yang mau ditolong. Dalam mengadakan pelayanan, kami tidak membeda-bedakan asal, suku, agama, dan latar belakangnya.

Kalau Bruder berbicara mengenai “orang miskin yang membutuhkan pertolongan dan mau ditolong”, siapakah mereka itu menurut pendapat Bruder?

Tergantung situasi dan kebutuhannya. Miskin itu ada macam-macam. Antara lain: miskin pendidikan, miskin materi, miskin sosial, miskin budaya, mungkin miskin agama. Bagi mereka yang miskin pendidikan, YRSPM (Yayasan Realino Seksi Pengabdian Masyarakat) menyediakan beasiswa. Tahun ajaran 1986/1987 ini ada 373 siswa-siswi yang diberi beasiswa.

Bagi mereka yang drop-out, kami mengusahakan kursus-kursus, antara lain kursus elektronika dan baby sitter. Bagi yang miskin materi kami membantu dengan sedikit modal dan yang utama bimbingan untuk mempergunakan modal tersebut. Kini golongan ini ada sekitar 400 keluarga. Bagi yang miskin sosial, kami mencoba mengusahakan tempat penampungan dan bimbingan sekadarnya.

Namun dengan pemilah-milahan kemiskinan ini, kita tidak boleh terjerat pada cara melihat persoalan secara terpisah-pisah. Kemiskinan-kemiskinan tersebut saling terkait satu sama lain. Misalnya saja kemiskinan materi menyebabkan kemiskinan pendidikan, kemiskinan pendidikan menyebabkan kemiskinan materi dan sosial, dsb.

Seksi Pengabdian Masyarakat sebagai bagian Yayasan Realino pada mulanya dirintis oleh pater Chavigny de Blot SJ, sejak tahun 1964. Suatu kurun waktu yang cukup lama, 23 tahun. Pertanyaa kami, dengan adanya tuntutan zaman apakah selama waktu itu telah terjadi perubhan bentuk, kalau bukan malah arah, pelayanan?

Memang, perubahan bentuk pelayanan pada orang kecil ada, tetapi mengenai arah, saya kira kami tetap mengarah pada pelayanan orang kecil dan lemah. Bentuk pelayanan itu dulu adalah pelayanan pada korban-korban G-30-S, antara lain kepada keluarga-keluarga yang terpaksa ditinggalkan oleh mereka yang diciduk dan dihukum karena terlibat atau diduga terlibat G-30-S. Juga mereka yang ditahan dan dihukum, dengan bantua pemerintah, kami usahakan bantuan moral serta materinya, sedapat-dapatnya. Jadi bantuan kami tak lain atas dasar rasa perikemanusiaan.

Namun masalah G-30-S lama-kelamaan semakin berkurang, atau seharusnya semakin berkurang, kemendesakannya. Maka kami sejak beberapa tahun yang lalu sudah mulai mengalihkan pelayanan kepada keluarga-keluarga yang lemah dan misin. Jadi bentuk pelayanan kami semakin meluas, tidak hanya pada korban G-30-S, melainkan kepada keluarga-keluarga yang datang pada kami. Jadi arahanya tetap sama yakni pelayanan pada orang kecil dan lemah, hanya bentuk pelayanan sudah semakin meluas, tidak terbatas pada korban G-30-S. Begitu.

Masalah G-30-S memang harus dianggap sudah lewat, tetapi bagaimana dengan para bekas Tahanan Politik (TaPol) yang sekarang sudah dimasyarakatkan lagi, atau tepatnya diperbolehkan berada di masyarakat?

Usaha pemerintah untuk mengembalikan mereka ke dalam masyarakat pantas kita dukung dan selamati. Pelayanan kami, kendati bukan bersifat material lagi adalah mendukung usaha pemerintah tersebut. Pada berbagai kesempatan, pemerintah mengutarakan betapa tidakmudah bagi masyarakat luas untuk menerima mereka kembali.memang kendati mereka sudah bebas, namun masih menderita.

Sebaga bangsa yang berperikemanusiaan dan berkebangsaan kita wajib menerima mereka secara wajar. Itulah bantuan moral yang amat mendesak. Kalau mereka diterima secara wajar, orang kristiani mengistilahkan: dicintai, tentu akan lebih mudah bagi mereka untuk bangkit dan membangun keluarga secara berharkat dan baik.

“Dari mereka yang kita layani, semangat dan pelajaran berharga banyak saya timba.”

Bruder dahulu masuk dalam karya ini karena penugasan Provinsial atau karena permintaan, tepatnya hobi dari Bruder sendiri?

Ya, itu kembali sepuluh tahun yang silam. Ketika itu romo Provinsial memberikan dua pilihan kepada saya: ke Komunitas Sanata Dharma atau ke Kolese St. Ignatius. Menyadari keterbatasan saya, saya masih ingin dapat berkembang, maka saya memilih ke Kolese St. Ignatius. Hal itu akhirnya tidak pernah terjadi. Romo Provinsial menyodorkan karya Seksi Pengabdian Masyarakat di Wisma Realino. Kata beliau karya itulah yang kini mendesak untuk ditangani.

Saya ketika itu merasa tidak siap dan tidak mampu. Hanya karena ketaatan dan kesadaran akan semangat Ignatius dan kawan-kawan, saya mencoba menerima dan memulai dengan lapang dada. Ya, dilapang-lapangkan. Sungguh saya berangkat dari titik nol besar. Latar belakang keahlian berkarya sosial saya ndak punya sama sekali. Membanyangkan karya ini mau bagaimana saja tidak dapat. Pokoknya saya mulai saja dengan cara yang saya punya.

Bagaimana itu?

Berbekal semangat yang diinspirasikan Serikat Yesus: selalu ingin lebih maju, maka juga berani belajar melalui pengalaman-pengalaman, terbentru ke sana ke mari, terlempar ke sana-sini. Sungguh rahmat Tuhan yang membimbing. Dari mereka yang kita layani semangat dan pelajaran berharga banyak saya timba. Kalau kita tahu bahwa orang yang kita layani semakin mampu berdiri sendiri, itu juga membuat kita semakin kuat dan tak jera untuk maju, kendati kegagalan kadang tak terhindari. Juga beban dan penderitaan mereka membawa berkah bagi kehidupan saya yang tak terlepas dari beban dan penderitaan. Saya merasa senasib dan sepenanggungan dengan mereka, merasa mendapat teman seperjuangan.

Kalau tidak salah, dulu Bruder sewaktu masih kecil, ditinggal meninggal oleh ayah…. Apakah itu mempengaruhi kepekaan Bruder terhadap orang-orang kecil?

Uah, kurangajar….hehehehe…. (bruder tertawa terbahak-bahak), inikan pertanyaan pribadi tak masuk rencana wawancara? Tapi baiklah. Yang benar ayah saya bukan meninggal, tetapi di-Romusha-kan. Kehidupan waktu itu sungguh amat sulit, apalagi kami dari keluarga miskin. Ibu harus bekerja keras untuk menghidupi anak-anak. Ini jelas tak mungkin saya lepaskan dari hidup saya.

Mungkin kalau berpengaruh, itu berpengaruh terhadap metode kerja saya. Ini barangkali yang dinamakan rahmat rencana Tuhan. Apa yang dirasakan oleh mereka yang saya layani, saya rasakan sendiri tetapi dalam kehadiran dukungan Tuhan yang bijaksana. Lebih dari sekadar emosional, barangkali pengalaman mistik yang mendukung, begitu.

“…kita ngurusi manusia, bukan barang yang dapat diprogram”

Tentang metode kerja, ada orang yang berkata karya sosial biasanya mempunyai pendekatan karikatif belaka, bagaimana itu?

Karitatif itu bagi saya adalah kalau orang hanya memberi dan memberi; tetapi tidak mengajak orang untuk mandiri. Meskipun secara insidental kadang kita memang harus melayani secara karitatif, namun arah tekanan tetap membantu mereka menemukan kembali harga diri, sehingga mereka mandiri. Itu yang pokok. Maka yang namanya beasiswa, juga tidak diberikan secara penuh, kami berembug dengan orang tua atau walinya tentang kesanggupan mereka menanggung sebagian biaya anaknya.

Ada yang memberikan uang saku, ada yang menanggung kebutuhan sepatu dsb. Demikian pula dengan anak-anak yang diasramakan, mereka juga harus latihan kerja, entah memasak untuk teman-teman, entah mengambil air. Pula kalau liburan mereka harus pulang dan berada dengan keluarga, agar mereka tidak kehilangan kontak, agar gaya hidup mereka tetap sepadan dengan kondisi keluarga. Yang kursus elektronik pun tidak bebas dari menyumbang sedikit biaya pembelian alat-alatnya. Kalau tidak, mereka malah ogah-ogahan datangnya, tidak merasa ikut bertanggungjawab, tidak merasa dianggapa punya harga diri atau mampu berbuat dan menyumbangkan sesuatu.

Maka saya sering keki, tidak rela, sungguh tidak rela, kalau orang hanya datang ke sini untukmenilai bahwa karya ini karitatif melulu. Itu tidak fair. Memang ada orang yang benar-benar harus diberi, karena tidak mungkin tanpa diberi. Tapi bilamana kondisi memungkinkan, kami mengarahkan mereka untuk mandiri dan berharga diri. Ini tidak mudah, bukan pekerjaan semalam jadi, kita ngurusi manusia, bukan barang yang dapat diprogram.

Benar tidak mudah. Apakah pernah Bruder mengalami hambatan atau kegagalan?

Kegagalan selalu ada, hambatan tak kurang. Tetapi yang pokok kita jangan takut gagal. Sebab kalau takut gagal kita tak akan pernah berbuat apa-apa. Melayani orang kecil dan lemah dapat kita rasakan sebagai kegagalan… lah tidak maju-maju. Tapi kita mesti melihatnya secara lain. Pikir saja: apa kita kira diri kita ini selalu maju?

Berharga diri dan mandiri itu tidak identik dengan maju. Itu kan soal menerima diri dan keadaan, dari sana kita berusaha menjadi orang. Soal hambatan yang terbesar ialah kurangnya tenaga untuk memperhatikan orang-orang yang kita layani secara intensif, juga dari mereka sendiri kurang adanya kesadaran untuk berperan serta ikut bertanggungjawab.

Soal tenaga, kami lihat Bruder dibantu banyak mahasiswa-mahasiswi dan sukarelawan lainnya?

Sungguh saya sangat berterima kasih pada mereka,bantuannya sungguh besar. Tetapi para mahasiswa kan terbatas waktunya oleh kesibukan studi. Apalagi sifatnya sukarela, kami tidak dapat menuntut terlalu banyak. Tenaga sungguh masih kurang.

“Mereka semua adalah dukungan yang besar bagi saya.”

Kalau sedang penuh beban, bapak keluarga pergi ke istreri; kalau Bruder sebagai yang bertriprasetya, lantas pergi kepada siapa? Kepada Tuhan?

Kepada Tuhan tentu saja. Tetapi kita kan masih manusia. Maka kita juga membutuhkan dukungan dari manusia. Yang utama dari komunitas. Yang saya maksud tentu saja bukan komunitas yang sempit, tetapi yang luas. Jadi tidak terbatas pada anggota serumah saja. Dukungan tidak harus berupa materi. Oh ya, materi juga boleh, pasti akan diterima dengan tangan terbuka. Tetapi yang terpenting dukungan moral.

Mudahnya begini: kalau saya ngomong, mereka rela mendengarkan; kalau mereka ngomong, saya boleh ikut mendengarkan. Itu saja sudah merupakan dukungan yang besar. Apalagi pada zaman yang materialistis seperti sekarang ini, kalau komunitas tidak kuat mendukung, kita mudah jatuh dalam godaan mencari dukungan di luaran. Walaupun dari situasi dunia yang seperti itu muncul pula dukungan yang lain, yakni dukungan dari teman-teman sekerja yang dengan sukarela membaktikan diri untuk karya ini.

Kalau saya boleh menyebut, beberapa bapak-ibu telah merelakan keluarganya untuk menerima anak-anak kami, menjadi pengasuhnya, dua puluh empat jam setiap hari. Juga para karyawan di sini, yang dengan sukarela menyumbang kemampuan dan tenaga untuk kerja berat memanggul beban karya ini.

Tidak hanya yang katolik, yang islam dan protestan pun dengan dedikasi yang tinggi berbakti di sini. Para mahasiswa-mahasiswi, para tenaga sosial, yang menyumbangkan sebagian waktunya untuk bekerja di sini barang 5 atau 10 jam seminggu. Mereka semua adalah dukungan yang besar bagi saya.

Oh ya, tentang dukungan dari Tuhan, bagaimana, apa berarti berdoa?

Ya berdoa, tetapi tidak hanya itu. Kalau sedang menghadapi kasus-kasus berat, … jangan ditertawakan lho… saya sering berziarah ke Sendangsono. Rasanya doa tanpa disertai jerih payah itu tidak bermakna. Dan aklau kita berdoa dengan ujub yang murni, apalagi demi keselamatan dan kehidupan orang lain, biasanya akan dikabulkan oleh Tuhan. Sungguh, iman saya amat sederhana.

Kami dengar banyak orang mengira Bruder itu seorang romo, bahkan ada yang berkimim surat kepada Bruder dengan embel-embel Dr., benarkah?

Memang. Tetapi orang salah sangka itu kan biasa. Hanya mungkin itu menunjukkan sesuatu. Yakni bahwa gambaran orang mengenai karya sosial itu masih diasosiasikan dengan kemampuan-kemampuan tertentu. Misalnya hanya seorang romo yang mampu, hanya seorang Dr. yang layak. Kendati sudah banyak karya sosial di Indonesia yang diurus oleh bruder dan suster.

Tetapi memang bruder Yesuit itu dulu-dulunya agak diberi kesan sebagai warga kelas dua. Itu diakui oleh Kongregasi Jenderal ke XXXIII. Namun sekarang sudah banyak berubah, bahkan harga diri seorang bruder akhirnya berpulang pada bruder itu sendiri. Kalau bruder-bruder yang ada itu menghargai dan mantap dengan panggilannya, tentunya orang lain akan juga ikut menghargai. Syukur dari antara para awam terus ada yang lantas tertarik untuk menjadi salah satu dari mereka, para bruder.

Bruder dilahirkan di mana dan kapan?

Di Kemiren, Jumoyo, Salam, Magelang. Tanggalnya, 19 Juli 1944.

Masuk Serikat Yesus, kapan?

Tahun 1965.

Hobi?

Badminton, melihat keindahan alam, keluyuran, dan memelihara alam; tanaman, binatang dsb.

Makanan kesenangan?

Tak perlu banyak, asal enak.

Terima kasih Bruder.

"Dari mereka yang kita layani, semangat dan pelajaran berharga banyak saya timba."
Br. M. Purwautama, SJ

Mari bergabung bersama kami
dengan menjadi Volunteer atau berdonasi untuk kegiatan-kegiatan kami

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email
Share on print