Kamu-kamulah Penghuni Surga

Memanusiakan Manusia

Di tengah hiruk-pikuk kota yang dijuluki Kota Pelajar itu, terdapat berbagai wilayah terpinggir yang sering kali luput dari perhatian banyak orang. Salah satunya adalah Bong Suwung. Kawasan ini berdiri tepat di samping rel kereta api, membuat warga di sekitarnya harus mendengar deru kereta yang melintas setiap hari. Kondisi tersebut masih diperparah oleh ketersediaan infrastruktur yang sangat sederhana. Di sudut lain kota ini terdapat pula daerah Pingit dan Jombor yang memiliki “keunikan” tersendiri, seolah tidak ingin kalah dengan Bong Suwung dalam menghadirkan realitas kehidupan yang penuh keterbatasan.

 Dari gambar tersebut, kita mungkin dapat membayangkan bagaimana ritme kehidupan masyarakat yang tinggal di sana. Entah mereka masih memiliki angan akan kehidupan yang lebih layak atau tidak, bahkan impian tentang kemakmuran mungkin terasa terlalu jauh dan utopis. Barangkali bagi sebagian dari mereka, sekadar mendapatkan sesuap makanan hari ini saja sudah menjadi anugerah yang patut disyukuri. Mengenai apakah rezeki masih tersediaesok hari atau tidak, mereka sepenuhnya menyerahkannya kepada Yang Maha Esa – itu pun jika mentari esok masih dianugerahkan bagi mereka.

Namun demikian, mereka tetaplah manusia. Sudah sepantasnya bagi kita sebagai sesama manusia untuk memanusiakan mereka. Mereka pun berhak merasakan kehidupan yang lebih layak, setidaknya dalam hal pendidikan. Inilah yang selama ini diupayakan oleh Ralino SPM.

Dengan berbekal berbagai kegiatan keterampilan dan prakarya, para volunteer Realino SPM hadir untuk menabur benih harapan bagi anak-anak di Kawasan tersebut. Para volunteer ini sebagian besar merupakan mahasiswa diari berbagai universitas di Yogyakarta yang tergerak untuk berbagi waktu, tenaga, dan perhatian.

Melalui kegiatan belajar yang menyenangkan sekaligus bermanfaat, mereka berusaha mendorong perkembangan kemampuan kognitif anak-anak sekaligus menyalakan api kemanusiaan dalam diri mereka. Berbagai kegiatan sederhana seperti membuat prakarya dan aktivitas kreatif lainnya diberikan kepada anak-anak tingkat SD hingga SMP di Jombor, Bong Suwung, dan Pingit. Dari kegiatan-kegiatan tersebut tersemat harapan agar nilai perjuangan, semangat belajar, serta keinginan untuk meraih masa depan yang lebih baik dapat tumbuh dalam hati mereka.

Volunteer SPM mendampingi anak Komunitas Bongsuwung membuat prakarya
Dokumentasi: SPM Realino

Meneladani Penghuni-penghuni Surga

Sekilas, kata volunteer atau pelayanan sukarela yang ditekankan dalam kegiatan Realino SPM mungkin memberi Kesan bahwa semua pihak yang terlibat tidak mendapatkan imbalan apa pun. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Jika kita mau melihat lebih dalam, kita akan menemukan sebuah  hidden gem yang membuat kita semakin memaknai perjumpaan antara para volunteer dan anak-anak di Komunitas Belajar Realino.

Secara umum, para volunteer berperan sebagai pendidik, sementara anak-anak menjadi para siswa. Namun dalam kenyataannya, hal sebaliknya sering kali terjadi. Para volunteer – bahkan kita semua – justru dapat belajar banyak keutamaan dari anak-anak. Hal ini bukan semata karena mereka berasal dari lingkungan pinggiran, melainkan karena kesederhanaan mereka sebagai anak-anak.

Para Volunteer SPM Realino foto bersama setelah pendampingan di Komunitas Jombor
Dokumentasi: SPM Realino

Yesus pernah berpesan, “Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.” Lalu, apa yang sebenarnya dapat kita pelajari dari anak-anak spesial Istimewa ini?

Memang, mereka terkadang suka bertengkar. Mereka juga bisa cerewet, sulit diminta diam, dan kadang enggan mendengarkan. Kata-kata yang mereka ucapkan terdengar terdengar keras, bahkan kasar. Tak jarang pula mereka berbicara kepada para volunteer dengan nada yang kurang sopan. Kita mungkin dapat memahami bahwa lingkungan tempat mereka tumbuh memberi pengaruh yang cukup besar terhadap cara mereka bersikap.

Namun di balik semua itu, terdapat banyak kebaikan yang sering kali luput dari perhatian kita karena terlalu focus pada kenakalan mereka. Pernahkah kita menyadari betapa mudahnya anak-anak saling berjabat tangan dan berbaikan setelah bertengkar? Atau betapa ringan mereka berkata, “Kak, ini caranya gimana sih? Tolongin dong, aku enggak paham” ketika sedang membuat prakarya?

Hal-hal tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun jika bertanya pada diri sendiri, kapan terakhir kali kita melakukan hal yang sama? Kita mungkin mulai menyadari betapa mudahnya anak-anak mengesampingkan ego mereka. Seiring bertambahnya usia, ego kita justru sering semakin besar. Kita menjadi semakin sulit mengucapkan “maaf”, “tolong”, atau “terima kasih”. Kita hidup di dunia yang sering menganggap meminta maaf sebagai tanda kekalahan dan meminta tolong sebagai tanda kelemahan.

Pada momen lain, jika kita memperhatikan lebih saksama, kita akan melihat betapa antusiasnya anak-anak ini ketika menceritakan pengalaman mereka menjelajah sawah di sekitar tempat tinggal mereka. Di kesempatan lain, mereka berbagi cerita tentang keseruan berangkat ke sekolah bersama sahabat-sahabat terdekat setiap pagi.

Tanpa kita sadari, melalui cerita-cerita sederhana itu, mereka mengingatkan kita untuk terus bersyukur. Kesibukan studi atau pekerjaan sering kali membuat kita berpikir bahwa rasa syukur hanya pantas muncul ketika kita meraih nilai ujian yang sempurna atau saat menerima gaji di akhir bulan. Padahal, melihat Mentari pagi yang masih terbit atau sekadar menatap wajah kita di cermin pun sudah menjadi alasan yang cukup untuk besyukur.

Sesungguhnya, kebahagiaan itu sederhana – selama kita mampu melihat dan mensyukurinya.

Kontributor: Efrem Mas Aletadeo Satya Pramuda, nS.J.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *