
Biasanya saya mengutip quotes tokoh-tokoh hebat atau quotes yang indah dan penuh makna dari berbagai penjuru dunia untuk memulai sebuah cerita. Seolah-olah hal-hal indah dan spektakuler itu harus datang dari jauh, dari nama-nama besar, atau dari buku-buku best seller. Namun belakangan saya sadar, saya sering lupa bahwa hal-hal yang paling indah justru ada di sekitar saya. Begitu dekat dan beruntungnya bisa dijumpai setiap hari.
Salah satu “hal indah” itu adalah anak-anak yang saya dampingi di KBR (Komunitas Belajar Realino) Jombor, Yogyakarta. Tempat itu hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari tempat saya tinggal. Tujuh menit dengan sepeda motor, sembilan menit dengan mobil, atau sekitar empat puluh menit dengan berjalan kaki. Begitu dekat secara geografis. Tetapi maknanya bagi saya terasa jauh lebih dalam daripada yang saya bayangkan di awal.
Empat tahun lalu, saya mulai terlibat sebagai volunteer karena tugas kampus. Awalnya sederhana saja. Saya datang, mengajar, membantu mengerjakan pekerjaan rumah, lalu pulang. Saya melihatnya sebagai kegiatan sosial biasa. Tidak ada yang terlalu istimewa. Namun, semakin sering saya datang, semakin saya merasa bahwa ada sesuatu yang pelan-pelan mengubah cara pandang saya.
Saya datang dengan pikiran bahwa saya akan mengajar mereka. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya: saya banyak belajar dari mereka. Saya belajar bahwa mendampingi anak-anak bukan hanya soal menyampaikan materi pelajaran. Sejujurnya, mereka tidak selalu mengingat materi atau teori yang saya jelaskan. Yang mereka ingat adalah apakah saya hafal namanya, mau duduk bersama mereka, mendengarkan cerita mereka, dan memberi perhatian. Saya mulai mengerti bahwa kehadiran jauh lebih penting daripada penjelasan panjang.

Dokumentasi: Realino SPM
Kadang mereka hanya ingin didengar. Kadang mereka hanya ingin diyakinkan bahwa mereka bisa. Di situ saya melihat bahwa kepercayaan dapat berdampak besar. Ketika seorang anak merasa dipercaya dan dihargai, ia menjadi lebih berani untuk mencoba dan terus belajar. Saya juga belajar bahwa pendidikan bukan sekadar hak formal, tetapi juga jalan untuk memulihkan martabat. Ketika seorang anak merasa diperhatikan dan dipercaya, ia bertumbuh bukan hanya dalam pengetahuan, tetapi juga dalam kebenaran. Sekarang, setiap kali saya pergi ke Jombor, saya tidak lagi memandangnya sebagai kewajiban atau tugas kampus. Saya melihatnya sebagai perjumpaan. Perjumpaan yang membentuk saya menjadi manusia yang utuh pelan-pelan.
Pada akhirnya, saya sungguh bersyukur bisa menjadi bagian kecil dari perjalanan mereka. Namun jika saya jujur, bukan saya yang membentuk mereka, tetapi merekalah yang membentuk saya. Mereka adalah guru-guru kecil yang mengajarkan saya bahwa hal-hal indah ada di sekitar kita. Hanya perlu hati untuk melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh mata.
Kini saya tak lagi merasa perlu mencari kutipan indah dari jauh untuk mengakhiri cerita. Karena saya tahu bahwa hal-hal indah itu nyata. Mereka hidup. Dekat. Mereka tertawa setiap hari Sabtu di Jombor.
Dan jaraknya hanya 3 kilometer dari tempat saya tinggal.
Kontributor: Hilarius Panji Setiawan, Pr – Volunteer Realino SPM
