Dapur Umum Sosrowijayan

Date

“Apa lagi yang bisa kulakukan untuk Mbak–mbaknya?” kegelisahan besar yang muncul dari koordinator komunitas Bunga Seroja di Sosrowijayan, selatan stasiun Tugu Yogyakarta, saat menceritakan kisah awal dapur umum di Sosrowijayan dibuat. Bantuan paket sembako maupun nasi bungkus dari beberapa pihak memang berdatangan ketika awal masa tanggap darurat Covid-19 di Yogyakarta. Seluruh aktivitas di Sosrowijayan ditutup total. Para pelaku bisnis dan pekerja hiburan di Sosrowijayan sama sekali tak bisa mendapatkan penghasilan. Ingin pulang ke kampung halaman pun tak punya ongkos. Mereka menyadari bahwa tak bisa terus menerus mengandalkan paket sembako dan nasi bungkus yang tak bisa bertahan lama dan tak bisa dipastikan akan selalu ada. Maka, atas saran dari seorang teman relawan yang juga menaruh perhatian pada komunitas Bunga Seroja, menghubungi SPM Realino melalui Rm. Yohanes Adrianto Dwi Mulyono, SJ. Selanjutnya, Koordinator Bunga Seroja mengutarakan permintaan bantuan pada SPM Realino untuk mendukung pengadaan dapur umum di Sosrowijayan selama masa tanggap darurat Covid-19.

Tepatnya 8 April 2020, SPM Realino mulai melakukan pendistribusian bahan–bahan makanan untuk dapur umum Sosrowijayan yaitu: beras, minyak goreng, telur ayam, mie instan, mie telor, bihun, sambel pecel, teh, kopi, gula, garam, teri, wader, sosis, abon, nugget, ayam potong, telur asin, kertas pembungkus nasi, karet, plastik, bawang merah, bawang putih, dan cabai. Selain bantuan bahan–bahan makanan, SPM Realino juga memberikan subsidi uang belanja untuk membeli bahan sayuran segar, bumbu dan pengeluaran isi ulang gas. Pendistribusian bantuan untuk dapur umum ini dilakukan selama 1 minggu sekali dengan mengikuti protokol kesehatan, koordinasi dan pelaporan kegiatan dilakukan melalui aplikasi WhatsApp. Kemudian sistem pembelanjaan dilakukan dengan memesan langsung ke supplier atau belanja di warung dekat rumah. Upaya ini dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran Virus Covid-19. Selain SPM Realino, Solidaritas Pangan Jogja juga ikut mendukung dapur umum ini dengan memberikan dana tambahan untuk pembelanjaan kebutuhan dapur umum.

Dalam 1 hari, dapur umum Sosrowijayan memasak sebanyak 1 kali untuk 150 porsi nasi bungkus. 100 bungkus nasi dibagikan terutama untuk “mbak–mbak pekerja hiburan” dan juga warga sekitar Sosrowijayan yang terdampak pandemi ini. Lalu 50 bungkus nasi dibawa ke komunitas marginal di daerah Badran tempat tinggal banyak pemulung, pengamen, pengemis. Layaknya dapur umum Bongsuwung, sekitar 13 hingga 15 warga Sosrowijayan setiap hari terlibat membantu di dapur umum secara sukarela. Mereka menyumbangkan tenaganya juga meminjamkan peralatan masaknya untuk kegiatan dapur umum. Tak hanya para pekerja hiburan, ibu–ibu rumah tangga, para pengusaha penginapan atau tempat hiburan pun ikut peduli membantu.

Dengan dukungan dari banyak pihak, SPM Realino bisa mendukung kebutuhan dapur umum Sosrowijayan selama 3 bulan dari April sampai Juni 2020. Usaha ini dilakukan hingga akhirnya aktivitas perekonomian di Sosrowijayan mulai pelan–pelan aktif kembali, walau belum sepenuhnya normal. Tanggal 24 Juni menjadi hari distribusi terakhir bahan makanan untuk dapur umum Sosrowijayan. Kegiatan dapur umum Sosrowijayan dinyatakan selesai pada akhir Juni 2020 karena warga telah bekerja normal kembali.

“Sebungkus nasi itu seperti sesuatu yang sangat berharga di tengah pandemi ini,” ungkapan ini berulangkali disampaikan koordinator Bunga Seroja saat wawancara. Ungkapan yang tak hanya ia rasakan sendiri, namun juga dirasakan para anggota komunitas Bunga Seroja lainnya. Ia tak hentinya mengucapkan terimakasih pada SPM Realino yang sudah membantu banyak komunitas terpinggirkan ini tanpa melihat status sosial, latar belakang, pekerjaan, ataupun agama. Selain membantu memberi rasa aman pada kebutuhan dasar hidup mereka, keberadaan dapur umum ini juga menumbuhkan suasana guyub rukun, membangun kedekatan, dan persaudaraan warga Sosrowijayan. “Ada anggota komunitas Seroja yang diem–dieman sebelumnya, gara–gara terlibat di dapur umum ini, mereka jadi sering bertemu dan mulai berkomunikasi kembali. Lalu, kami menjadi semakin dekat dengan mereka para pengusaha penginapan atau tempat hiburan. Jadi menambah saudara,” ungkap koordinator komunitas Bunga Seroja dengan raut wajah bahagia dan syukur.  

Ditengah kondisi yang serba sulit saat ini, hidup semakin penuh dengan ketidakpastian, kegelisahan, dan ketakutan akan masa depan. Banyak pertanyaan muncul di benak mereka, apakah masih bisa terus bertahan mencukupi kebutuhan hidup? Kapan pandemi akan berakhir? Bagaimana kalau nanti ditutup lagi, dan pengeluaran akan terus meningkat sedangkan pemasukan tak bisa selalu dipastikan? Selain itu, mereka pun memiliki kekhawatiran–kekhawatiran lainnya terkait kehidupan sehari-hari. Kepedulian di tengah masa sulit ini sungguh menjadi kekuatan besar yang dapat membuat saudara–saudari kita yang kecil, lemah, dan terpinggirkan merasa berarti dan berharga. Dengan demikian tumbuhlah daya juang dalam diri untuk bisa terus bertahan hidup. Pandemi belum berhenti, kepedulian kita sungguh sangat berarti.

More
articles